Kamis, 14 Agustus 2008

Rumah Baca BookboX

Berawal dari keisengan untuk memenuhi kembali hasrat serta hobi pada masa kecil dulu yang senang dengan bacaan-bacaan, baik komik, buku-buku cergam atau cerita yang lain, menjadikan perjalanan pulang dari kantor/kerja di Jakarta menggunakan kereta api ke arah Bojong Gede Bogor menjadi ajang kesempatan untuk melihat-lihat buku-buku yang dijual di stasiun-stasiun pada saat-saat menunggu kereta (bagi anda yang bukan pengguna kereta atau yang tinggal di luar Jabotabek, dipersilahkan melihat peta jalur kereta api jabotabek). Kebetulan pengambilan rute pulang yang bervariasi dan memang sengaja untuk dilakukan, mulai dari stasiun kereta Kota, Tebet, Cawang, Pasar Minggu, UI, sampai Depok, dll., menjadi suatu kesempatan dan petualangan tersendiri untuk melihat-lihat buku-buku yang dijual dan menjadi kenal pula dengan penjual-penjual buku di stasiun-stasiun tersebut serta bisa mendapatkan variasi buku yang bermacam-macam.
Kadang-kadang ketemu satu dua buku yang dulu, pada masa-masa lalu sudah pernah di baca/dimiliki, menimbulkan ketertarikan untuk membaca atau membelinya kembali, atau terbayangkan pada masa kecil itu tidak bisa atau belum mampu membeli buku-buku tersebut walaupun sangat ingin membelinya (dikarenakan adanya keterbatasan budget dana orang tua untuk membelikannya pada waktu itu), atau bahkan saat itu hanya bisa meminjamnya dari teman-teman, atau ada juga buku-buku yang belum pernah dibaca sama sekali akan tetapi menarik untuk di koleksi seperti buku-buku favorit dari dulu sampai sekarang. Alasan-alasan itu menjadi sebab pengumpulan dan pembelian buku-buku tersebut. Akhirnya, sedikit demi sedikit dari keisengan tersebut, terkumpul buku-buku yang lumayan banyak jumlahnya (lebih dari 3000 buku) dan terus bertambah koleksinya.
Disamping itu, sebenarnya ada keinginan pribadi agar pengalaman kesukaan membaca di waktu kecil tersebut menjadi pengalaman yang dialami juga oleh kedua anak laki-laki tersayang agar dengan membaca buku-buku yang ada tersebut, mereka akan mendapatkan suatu intisari dasar tentang hidup yaitu adanya perbuatan serta sifat baik dan jahat, yang akan selalu ada dan muncul di dunia ini. Sehingga dari hal tersebut, mereka akan mempunyai dasar yang kuat dan tahu disisi mana mereka akan berada kelak, apabila mereka masuk kedalam area abu-abu. Ditambah dengan rajinnya kelak mereka membaca buku (pada saat BookboX ini mulai dibangun tahun 2006, mereka masih belum cukup umur untuk membaca), maka diharapkan pada mereka bisa timbul daya imajinasi yang luas yang akan sangat berguna dan terasa manfaatnya kelak bagi mereka dalam segala hal.
Berangkat dari pemikiran untuk menularkan manfaat tersebut bagi anak-anak yang lain plus bisa pula menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan umum mereka (sementara anak-anak sendiri masih belum cukup umur untuk membaca pada waktu itu), disamping sudah mulai banyaknya buku terkumpul tanpa mempunyai tempat yang pasti, maka muncullah ide mendirikan rumah baca yang diberi nama BookboX ini. Rumah Baca ini merupakan sebuah rumah yang menyediakan fasilitas “MEMBACA” bagi peminat baca disekitar rumah tersebut.
Awal tahun 2006 menjadi saat dimulainya proyek Rumah Baca ini, yang sebelum nantinya dibuka, mulai dibuat dulu rak-rak sebagai tempat buku-bukunya. Untuk tidak banyak mengeluarkan biaya dan sebagai pengalaman pribadi untuk mengerjakannya, pembuatan rak tersebut dikerjakan sendiri (terlihat pada foto sebelah) sehingga bisa berkreasi atas bentuk rak yang ingin dibuat tanpa harus susah menjelaskan idenya kepada orang lain yang hasilnya nanti belum tentu sesuai dengan yang diinginkan. Penjual kayu bekas Madura di jalan raya Sukahati (kebetulan BookboX berada di Sukahati, Cibinong, Bogor) menjadi langganan untuk bahan pembuatan rak-rak tersebut. Sudah tentu pembuatan rak tidak bisa dilakukan dengan sekaligus, akan tetapi mencicil satu persatu sama juga seperti proses pengadaan bukunya, yang dikumpulkan sedikit demi sedikit mengikuti budget yang ada. (Terlihat sebagian rak yang sudah jadi langsung ditempati buku).
Setelah keseluruhan rak tersebut siap (seluruh ruang tamu rumah tipe 36 kami sudah penuh dengan rak plus di teras depan rumah seperti yang terlihat di latar foto anak pertama kami yang sedang berpose jadi Batman di sebelah), maka pada tanggal 7 Mei 2006, dibukalah rumah baca dengan nama BookboX ini, sebagai sarana membaca bagi anak-anak plus peminat baca di sekitar dengan layanan yang ada sementara adalah :
  • Membaca di tempat per jam
  • Menyewakan buku untuk di bawa pulang
  • Menjual buku (online dan offline)
  • Kantin sederhana buat anak-anak (sudah tidak jalan)
Target layanan selanjutnya adalah meliputi :
  • ”Membaca” dari internet (warnet)
  • Memberikan tontonan film/pengetahuan
  • Menyelenggarakan lomba-lomba, pelatihan membaca, mengarang, menggambar, mewarnai, dll.
Idealnya, inilah maksud pendirian dari Rumah Baca yang didirikan ditetangga sekitar atau pada sebuah lingkungan perumahan ini, dimana Rumah baca akan bisa menjadi solusi tersendiri untuk memenuhi hal-hal sebagai berikut :
  • Sebagai tempat memenuhi minat baca dilingkungan tersebut.
  • Menghilangkan kendala mahalnya harga buku, karena tidak perlu membeli.
  • Penghematan besar bila dilihat dari banyaknya jumlah buku yang bisa dibaca.
  • Adanya pilihan buku yang beragam dan mendidik.
  • Dekat, tidak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan bacaan yang bagus.
  • Tidak ada kebosanan pada satu jenis buku karena banyaknya pilihan yang lain.
  • Sebagai tempat berkumpul dan bersosialisasi anak dengan teman-temannya.
Sebuah potensi layanan membaca yang bisa dibuat berimplikasi ke bisnis yang besar dan lain daripada yang lain ini, sebenarnya merupakan sebuah dasar yang ingin dibangun nantinya apabila ada investor yang berminat bekerjasama untuk berinvestasi dibidang ini, atau untuk dibentuk dengan investor-investor sistem franchise (sehingga besarnya permodalan untuk masing-masing lokasi bisa dibagi), berupa Rumah Baca yang bisa dibangun dengan lebih profesional dengan permodalan yang lebih mantap, akan tetapi tetap membawa idealisme yang ada, dengan membawa ide-ide sebagai berikut :
  1. Rumah-rumah baca dengan fasilitas-fasilitas seperti : internet, kantin (bisa diperluas ke bentuk kafe), pemutaran mini film, penjualan buku-buku, kegiatan-kegiatan kursus menggambar, mewarnai, dll., kelengkapan buku yang bukan hanya untuk anak-anak tetapi bisa diperuntukkan bagi semua umur, berdiri di segenap perumahan/lingkungan dengan sarana bangunan yang modern (seperti franchise retail klontong (indomaret, alfamat, dll)) yang sudah ada selama ini), dengan memperhatikan terlebih dulu lokasi yang strategis (dekat lingkungan sekolah, kampus, tempat-tempat keramaian dan stategis, dll), keluasan dan kenyamanan bangunan, serta penataan yang bagus, dll.
  2. Pada kenyataannya di toko-toko buku besar, lebih banyak orang yang hanya membaca dari pada membelinya, oleh karena itu, pembangunan fasilitas membaca seperti ini akan mendapatkan konsumennya sendiri dan akan diminati oleh konsumen.
  3. Kerjasama dengan penerbit buku, koran atau majalah bisa dilakukan, dimana untuk ruang baca, mereka menyediakan buku-buku, koran atau majalah sampel (peminat untuk masuk dikenakan charge untuk waktu tertentu bukan berdasarkan jumlah buku yang dibaca), dan apabila setelah itu mereka berminat untuk membeli, mereka membelinya di bagian penjualan.
  4. Fasilitas yang disediakan seperti internet, kantin/kafe, persewaan/penjualan buku, koran, majalah, tontonan film, serta kegiatan-kegiatan lomba, dll. masing-masing item tersebut akan menjadi sumber-sumber penghasilan tersendiri bagi rumah baca tersebut, disamping fungsi dari rumah bacanya itu sendiri yang menyediakan ruang dan waktu untuk membaca bagi pengunjung. Untuk mempunyai fix customer rumah baca tersebut bisa menyediakan layanan kartu langganan atau voucher membaca untuk bulanan atau tahunan.
Demikian ide dasar dari Rumah Baca ini dibangun, karena memang pada kenyataannya minat baca masyarakat sekarang sudah banyak berkurang. Karena itulah, sarana-sarana seperti ini perlu dibangun ditempat-tempat yang strategis, ditunjang dengan adanya sarana tontonan yang mendidik, fasilitas internet, serta kafe/kantin sebagai penunjang perut ketika membaca, sehingga apabila ada fasilitas yang memadai seperti itu, bernuansa modern, ditata dengan eksklusif dan berdiri dimana-mana, diharapkan akan dapat membangkitkan minat baca masyarakat Indonesia pada umumnya.